Oleh Mumu
04 Mei 2009
Ada yang tak berubah dari Erie Sudewo setelah tak lagi memimpin Dompet Dhuafa Republika. "Saya tetap di grass root," kata dia ketika ditemui di Graha Indomedia, di bilangan Kebayoran Lama Raya, Jakarta. Indomedia Group merupakan sebuah perusahaan yang antara lain bergerak di bidang penerbitan media massa, dan Erie kini duduk di sana sebagai advisor. "Salah satu tugas saya membantu membenahi sumber daya manusia yang ada di perusahaan ini," ungkap pencetus metode Corporate Soul Building itu. "Saya juga diminta menangani Majalah Khalifah yang sudah terbit selama empat tahun," tambah dia.
Ada sekitar 400-an karyawan di Indomedia Group dan sebagai advisor, Erie akan membangun jiwa perusahaan melalui SDM tersebut. "Kita berikan mereka antara lain training-training yang memotivasi, tapi benar-benar masuk ke esensi kehidupan, bukan kulit. Ibaratnya, bukan mengatasi gejala pusingnya tapi mengapa pusing," papar entreprener sosial yang masih menjabat sebagai Komisaris Utama PT Permodalan BMT itu.
Setelah menjalani Corporate Soul Building, diharapkan karyawan akan lebih memahami jati diri mereka, dan selanjutnya memahami arti kehidupan. "Dari situ, karyawan bisa menentukan posisi, mau kerja bener-bener apa enggak? Jangan sampai kerja lima tahun misalnya, ngejar uang doang, melainkan ada arti hidup itu, ada esensi dan nilai-nilai," jelas Erie. Di samping itu, dengan memahami arti kehidupan, karyawan tahu apa yang harus dilakukan sehingga produktivitas meningkat. Sebagai advisor, Erie juga bertugas memantau kiprah perusahaan hingga mengawasi untung-rugi. Ada 26 perusahaan di bawah Indomedia Group, dari media hingga pertambangan.
Lahir di Bandung , 25 September 1957, lulusan S-1 Jurusan Arkeologi UI ini mengawali kariernya dari kerja serabutan jualan kaos. "Pokoknya, awalnya dulu, kerja ya sekedar how to survive," kenang dia. Semasa kuliah, Erie termotivasi untuk menulis. Dari situ, Erie menemukan jalan untuk merintis karier di dunia kewartawanan. Karier inilah yang kemudian ditekuninya secara serius, sampai rela meninggalkan statusnya sebagai PNS di Pusat Penelitian Arkeologi. "Ketika sejumlah teman dari Tempo mengambil alih manajemen Brita Buana, saya gabung dan keluar dari PNS," ungkap dia. Dan, ketika Berita Buana akhirnya tutup, Erie ikut rombongan yang pindah ke koran baru, Republika. "Tapi, saya bukan apa-apa di situ, bantu aja," kata Erie yang kala itu menjawab sebagai sekretaris redaksi itu merendah.
Jabatan itu memungkinkan Erie untuk sering memimpin rapat, dan ketika para pucuk pimpinan Republika terinspirasi untuk mendirikan semacam lembaga amal, maka tatapan mata pun tertuju kepadanya. "Karena itu kerjaan non redaksi, bola bergulir ke saya. Ya sudah, dimulailah Dompet Dhuafa yang waktu itu belum jelas apa dan bagaimananya," ujar dia. Waktu itu tahun 1993 dan Erie memimpin sampai 2003. "Dari mengurus lembaga itu, satu hal yang saya pelajari bahwa negara ini nggak bener, selain tentu saja saya belajar banyak sekali, leadership, entrepreneurship, semuanya," tambah dia. Termasuk, Erie mengakui bahwa Corporate Soul Building yang dikembangkannya saat ini nilai-nilai dasarnya didapat dari Dompet Dhuafa.
Sosok sebelumnya