Oleh Aji Saka
24 Maret 2009
"Perlu kampanye yang tepat. Kalau bisa jadikan iB (Islamic Banking) sebagai sistem alternatif dari sistem kapitalis atau yang lain. Jangan solusi, tantangannya panjang dan berat. Apa buktinya kalau ini solusi?" Begitu komentar Prof. Bambang PS Brodjonegoro tentang strategi sosialisasi ekonomi syariah di Indonesia.
Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) demisioner ini mengaku sebagai muslim yang sangat moderat. Waktu perbankan syariah mulai mengampanyekan dirinya di era 1990-an, ia mendapat kesan: ekslusif kepada agama tertentu.
"Sebelum ada konsep iB. Saya memosisikan diri sebagai orang awam, dulu saya tahunya syariah sebatas tidak ada riba. Tapi yang saya lihat, industri ini mempromosikan dirinya terlalu mengedepankan agamanya, jadi seolah-olah, agak mendorong begini, eh kalau kamu orang Islam pakai syariah dong. Menurut saya itu tidak pas," terang Bambang kepada Niriah, Senin (23/09/2009).
Jangan Bermimpi
"Kita tidak usah bermimpi menjadi the solution, let say, save the world. Itu terlalu berat. Perlu perubahan sistem yang luar biasa," kata Bambang lagi. Bambang melanjutkan, kalau sebagai solusi, ibarat pilih atau tidak. Kalau pilih ekonomi syariah akan selamat dan sebaliknya.
Justru visinya sekarang adalah menjadikan ekonomi syariah sebagai pelajaran dalam pendekatan ekonomi konvensional.
Ekonomi syariah sebagai altenatif, harusnya inklusif. Ekonomi syariah dapat menaungi semua kegiatan ekonomi. Tapi kesannya, malah menjadi ekslusif, kampanyenya diarahkan ke komunitas Islam. Dalam tanda petik, tegas Bambang seperti agak memaksa.
Setelah Bank Indonesia (BI) dan industri meluncurkan payung sosialisasi iB pada 2008, justru lebih tepat. Seperti ada pemaknaan baru, bukannya bank Islam tapi bank yang memakai pendekatan atau sistem Islam. Islam pun dimaknai bukan totok sebagai agama, tapi sistem.
Targetnya Industri Mestinya 10 persen
BI menargetkan perolehan aset industri perbankan syariah di angka 5 persen pada 2010. Menurut Bambang mestinya 10 persen, idealnya di atas itu tentunya. Berdasar dari besarnya pasar kaum muslim Indonesia target mestinya di angka tersebut. Namun ia memaklumi penetapan target oleh BI. Karena, BI menentukan target dengan melihat tren pertumbuhan dari tahun ke tahun.
"Perlu ada terobosan, strategi baru dalam promosi dan sosialisasi, dan kehandalan perbankannya sendiri supaya orang mau kesana. Ketika kita bisa masuk ke banyak non-muslim, orang akan melihat ini bukan masalah agama, tapi kenyamanan dan reliability. Kalau saya nyaman dan merasa bank ini bisa take care aset saya, saya pakai, terserah agamanya apa," terang Bambang.
IRTI Akan Dukung Penyusunan Kurikulum Ekonomi Syariah Indonesia
Tidak banyak yang tahu, pada 11 April 2009 nanti, salah satu profesor termuda di UI ini akan menjadi orang Indonesia pertama yang memimpin lembaga internasional paling berpengaruh di bidang pendidikan dan riset ekonomi syariah, Islamic Research and Training Institute (IRTI), Islamic Development Bank (IDB).
Salah satu tugas IRTI adalah mempromosikan ekonomi syariah. Salah satunya bisa lewat pendidikan. "Kami mungkin akan mendorong penyusunan kurikulum ekonomi syariah di Indonesia yang bisa mencerminkan ekonomi syariah di Indonesia," sebut Bambang.
Sosok sebelumnya