REFERENSI > FATWA

Letter of Credit (LC) Impor Syariah

Oleh
09 April 2008

FATWA DEWAN SYARI'AH NASIONAL
NO: 34/DSN-MUI/IX/2002
Tentang LETTER OF CREDIT (L/C) IMPOR SYARI’AH

Menimbang :
Mengingat :
Memperhatikan :
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : FATWA TENTANG LETTER OF CREDIT (L/C) IMPOR SYARI’AH

Pertama : Ketentuan Umum:

  1. Letter of Credit (L/C) Impor Syariah adalah surat pernyataan akan membayar kepada Eksportir yang diterbitkan oleh Bank untuk kepentingan Importir dengan pemenuhan persyaratan tertentu sesuai dengan prinsip syariah.
  2. L/C Impor Syariah dalam pelaksanaannya menggunakan akad-akad: Wakalah bil Ujrah, Qardh, Murabahah, Salam/Istishna’, Mudharabah, Musyarakah, dan Hawalah.


Kedua : Ketentuan Akad
Akad untuk L/C Impor yang sesuai dengan syariah dapat digunakan beberapa bentuk:

  1. Akad Wakalah bil Ujrah dengan ketentuan:
    1. Importir harus memiliki dana pada bank sebesar harga pembayaran barang yang diimpor;
    2. Importir dan Bank melakukan akad Wakalah bil Ujrah untuk pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor;
    3. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase.
  2. Akad Wakalah bil Ujrah dan Qardh dengan ketentuan:
    1. Importir tidak memiliki dana cukup pada bank untuk pembayaran harga barang yang diimpor;
    2. Importir dan Bank melakukan akad Wakalah bil Ujrah untuk pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor;
    3. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase;
    4. Bank memberikan dana talangan (qardh) kepada importir untuk pelunasan pembayaran barang impor.
  3. Akad Murabahah dengan ketentuan:
    1. Bank bertindak selaku pembeli yang mewakilkan kepada importir untuk melakukan transaksi dengan eksportir;
    2. Pengurusan dokumen dan pembayaran dilakukan oleh bank saat dokumen diterima (at sight) dan/atau tangguh sampai dengan jatuh tempo (usance);
    3. Bank menjual barang secara murabahah kepada importir, baik dengan pembayaran tunai maupun cicilan.
    4. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh bank akan diperhitungkan sebagai harga perolehan barang.
  4. Akad Salam/Istishna’dan Murabahah, dengan ketentuan:
    1. Bank melakukan akad Salam atau Istishna’ dengan mewakilkan kepada importir untuk melakukan transaksi tersebut.
    2. Pengurusan dokumen dan pembayaran dilakukan oleh bank;
    3. Bank menjual barang secara murabahah kepada importir, baik dengan pembayaran tunai maupun cicilan.
    4. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh bank akan diperhitungkan sebagai harga perolehan barang.
  5. Akad Wakalah bil Ujrah dan Mudharabah, dengan ketentuan:
    1. Nasabah melakukan akad wakalah bil ujrah kepada bank untuk melakukan pengurusan dokumen dan pembayaran.
    2. Bank dan importir melakukan akad Mudharabah, dimana bank bertindak selaku shahibul mal menyerahkan modal kepada importir sebesar harga barang yang diimpor.
  6. Akad Musyarakah dengan ketentuan:
    Bank dan importir melakukan akad Musyarakah, dimana keduanya menyertakan modal untuk melakukan kegiatan impor barang.
  7. Dalam hal pengiriman barang telah terjadi, sedangkan pembayaran belum dilakukan, akad yang digunakan adalah:
    Alternatif 1:
    Wakalah bil Ujrah dan Qardh dengan ketentuan:
    1. Importir tidak memiliki dana cukup pada bank untuk pembayaran harga barang yang diimpor;
    2. Importir dan Bank melakukan akad Wakalah bil Ujrah untuk pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor;
    3. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase;
    4. Bank memberikan dana talangan (qardh) kepada nasabah untuk pelunasan pembayaran barang impor.
    Alternatif 2:
    Wakalah bil Ujrah dan Hawalah dengan ketentuan:
    1. Importir tidak memiliki dana cukup pada bank untuk pembayaran harga barang yang diimpor;
    2. Importir dan Bank melakukan akad Wakalah untuk pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor;
    3. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase;
    4. Hutang kepada eksportir dialihkan oleh importir menjadi hutang kepada Bank dengan meminta bank membayar kepada eksportir senilai barang yang diimpor.


Ketentuan Penutup : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagai-mana mestinya.

Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal : 06 Rajab 1423 H / 14 September 2002 M

niriah.com

Sebelumnya