OPINI

Rambe Menjadi "Rambo"

Oleh Jamil Azzaini
24 Juli 2007

Kondisi BMT (Baitul Maal Wattamwil) saat ini sangat jauh berbeda dibandingkan diawal booming berdirinya BMT tahun 1994. Ketika itu, saya yang sedang bekerja di Dompet Dhuafa (DD) Republika bertanggungjawab membidani dan mendorong lahirnya BMT untuk menolong orang-orang kecil dari jeratan rentenir. Setiap orang yang memiliki keinginan kuat dan telah mengikuti pelatihan BMT yang kami adakan, kami bekali modal Rp 1 juta untuk modal awal pendirian lembaga mikro non-bank itu.

Setelah 13 tahun, hasilnya luar biasa. Masing-masing BMT assetnya sudah milyaran rupiah. Saya ambil contoh dari salah satu BMT yang ikut pelatihan Top Leader yakni BMT Beringharjo. Lembaga yang berbadan hukum koperasi ini, operasi awalnya ada di pasar Beringharjo Yogyakarta.

Mursida Rambe, pimpinan lembaga ini pernah mengikuti pelatihan BMT bersama saya di Bogor pada September 1994. Sepulang pelatihan, Mursida Rambe dan ketiga rekannya memiliki keinginan kuat untuk membantu para pedagang di pasar Beringharjo dari jeratan rentenir. DD Republika menyuntikkan modal awal pendirian senilai Rp 1 juta. Berbekal modal itu, mulai Desember 1994, Mursida Rambe dan ketiga rekannya mulai bergerilya di pasar Beringharjo dengan mendirikan BMT Beringharjo.

Dengan semangat membara, wanita asal Medan ini terus berkeling pasar setiap hari. Gaji awal para pengelola yang hanya Rp 20 ribu per bulan tidak menghalangi semangatnya untuk meringankan beban para pedagang Beringharjo. Bila saya undang ke Jakarta untuk koordinasi dan membuat rencana aksi, mereka meminta ongkos untuk naik bus atau kereta api kepada kami. BMT belum punya anggaran untuk perjalanan dinas.

Setelah kurang lebih satu tahun BMT Beringharjo menunjukkan perkembangan, Mursida Rambe merekrut karyawan tambahan. Namun karena kerja di BMT belum bisa dijadikan kebanggaan di hadapan sahabat atau mertua, sangat sulit mencari SDM berkualitas ketika itu.

Kini, setelah 13 tahun, dengan kerja keras, cerdas dan ikhlas, BMT Beringharjo itu telah memiliki asset lebih dari Rp 15 Milyar. Sudah 2000 orang lebih pedagang di pasar Beringharjo dan Jalan Malioboro yang menjadi nasabah/anggota BMT. Dengan prosedur yang mudah, cepat dan kerjasama yang saling menguntungkan antara nasabah dan BMT, kini BMT Beringharjo menjadi pilihan utama untuk memperkuat modal para pedagang kecil di sana.

Karyawan yang berjumlah 50 orang lebih juga sudah banyak yang berasal dari Perguruan Tinggi ternama. Bahkan pada awal tahun 2006 BMT disebu ribuan pelamar kerja. Ketika itu, BMT mencari 5 karyawan baru, tapi ternyata surat lamaran yang masuk lebih dari seribu pelamar. Setelah 13 tahun berkiprah, BMT Beringharjo sudah menjadi pilihan utama oleh para pencari kerja di Yogyakarta.


Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Opini sebelumnya