Bertubi-tubi negeri kita tercinta dilanda berbagai kerusuhan, musibah atau bencana. Tengoklah sepuluh tahun terakhir sejak 1997. Peristiwa penembakan mahasiswa Universitas Trisakti, kerusuhan Semanggi, Ambon dan Poso, krisis ekonomi dan moneter berkepanjangan, tragedi bom di hotel JW Marriot, depan Kedubes Australia dan dua kali di Bali, bencana alam tsunami di Aceh, letusan gunung Merapi, gempa di Yogya dan Tasikmalaya, wabah flu burung, tanah longsor, jatuhnya pesawat Adam Air, tenggelamnya kapal Senopati Nusantara, serta masih banyak lagi bila mau disebutkan.
Saat naskah ini ditulis awal Februari 2007, Jakarta dan sekitarnya dilanda banjir besar, terendam di mana-mana. Naskah awal terpaksa dibuat dengan tulisan tangan, ditemani nyala lilin karena listrik di rumah padam.
Lantas dalam diri kita tentu bertanya: sedemikian parahkah kerusakan negeri kita; begitu burukkah pengelolaan dunia usaha dan pemerintahan kita; dan apakah citra bangsa kita memang sangat terpuruk?
Gempa Hati
Ada kalangan yang menilai, kita sangat repot dengan berbagai gempa bumi akhir-akhir ini, tapi tidak begitu peduli dengan gempa dahsyat di hati sebagian pejabat hingga kawula muda kita yang mulai tumpul hati nuraninya. Mereka memilih jalan pintas untuk jadi kaya dengan jalan curang, korupsi, spekulasi, hingga eksploitasi pihak lain secara tidak adil. Bukan cuma etika yang mereka langgar, malah hukum dan kaidah agama juga diabaikan.
Para pemimpin formal dan informal negeri kita menghadapi tugas amat berat. Masalah memang tidak bisa selesai dalam jangka pendek. Perlu ditempuh jalan panjang, diawali dengan membangun insan yang berkarakter dan berhati mulia sejak usia dini. Itulah sebabnya nabi Muhamad Saw diutus untuk membangun dan menyempurnakan karakter atau akhlak mulia.
Sejarah mencatat bahwa kemajuan sebuah bangsa dilandasi dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan peradaban yang tinggi. Namun, kejayaan itu berakhir manakala keangkuhan telah mengalahkan sikap rendah hati (tawadu’); ketamakan menggeser sifat tidak berlebihan dalam mencintai dunia (zuhud); serta budaya jalan pintas telah meruntuhkan kesabaran dan keteguhan hati (istiqamah).
Beberapa sifat mulia itulah antara lain yang membuat sebuah masyarakat menjadi bangsa besar dan bermartabat.
Rebranding Indonesia
Dalam konteks pemasaran dan kehumasan (PR), langkah awal untuk membangun kembali insan yang berkarakter (akhlak) mulia itu adalah upaya untuk mereposisi wajah Indonesia (rebranding) atau memulihkan citra bangsa (country image recovery).
Mungkin kita bergumam, jalan lurus itu terlalu lama untuk membereskan negeri ini. Saya mengusulkan jalur cepat (short-cut) yang mudah (bila mau): mulailah dari keteladanan para pemimpin dan tokoh dengan menunjukkan komitmen, kejujuran, memperlihatkan sikap rendah hati dan ketulusan dalam membangun bangsa, bukan golongan sendiri.
Kongkretnya dengan menerapkan batas waktu guna pemutihan harta hasil KKN untuk dikembalikan kepada negara atau menyetor ke rekening negara di bank, misal sebelum 1 April 2007. Setelah tanggal itu, semua koruptor ditindak tegas sesuai hukum yang menimbulkan efek jera. Tak ada lagi kompromi dengan para pelanggar hukum.
Untuk pemulihan citra bangsa dalam kaitan rebranding itu perlu didukung oleh empat lapis/pilar merek (brand) yang saling memperkuat dari personal, produk, perusahaan atau institusi, hingga industri.
Pertama, membangun personal branding insan Indonesia yang berkarakter mulia. Sifat yang ramah, tulus, santun, kekeluargaan, jujur, cermat, tanggungjawab dan sabar adalah contoh karakter yang menjadi ciri khas kepribadian Indonesia. Prestasi pelajar dan atlet kita di pentas internasional adalah contoh insan Indonesia yang turut mengharumkan citra bangsa.
Kedua, memperkuat product branding melalui pemupukan merek asli Indonesia agar menjadi merek global dan membawa nama baik bangsa. Garuda Indonesia dan Indomie adalah dua contoh yang tampaknya pantas didorong sebagai merek yang menyandang atribut citizen brand.
Ketiga, mendorong corporate branding perusahaan unggulan yang terbukti memiliki kontribusi di level domestik atau internasional perlu didukung penuh oleh pemerintah, misal BNI yang telah berkiprah 60 tahun dan BRI yang melewati 110 tahun. Pada saat yang bersamaan, institutional branding lembaga pemerintah juga perlu diperbaiki agar lebih kredibel dan terpercaya.
Keempat, memperkokoh industrial branding dengan memilih sektor industri andalan sebagai icon Indonesia. Industri kerajinan tangan dan furnitur mungkin merupakan salah satu sektor yang bisa mewakili tangan-tangan terampil dan kepiawaian putera-puteri Indonesia.
Tanpa pemulihan empat lapis citra itu, mustahil kita bisa mengerek citra bangsa di mata dunia yang pada akhirnya mampu mengundang wisatawan dan investor untuk percaya dan masuk ke Indonesia.
Petikan Nurani Pemasaran
June 4th, 2009 at 3:56 pm
Diovan….
Is diovan hct available in a generic. Novartis diovan patent expiration date. What is the generic drug for diovan hct. Diovan medication infor. Diovan. Thyroid nodules and diovan. Diovan hct….
June 8th, 2009 at 4:27 pm
Methotrexate rheumatoid arthritis….
Treatment of discoid lupus with methotrexate. Hcg numbers after methotrexate for gtd. Methotrexate dosage for ectopic….
June 10th, 2009 at 11:54 pm
Keflex mode of action….
Keflex used to treat. Keflex. Keflex effects. Drugs similar to keflex….
August 5th, 2009 at 7:29 am
O sullivan furniture….
North carolina furniture. Lazy boy furniture. Broyhill furniture. Furniture. Office furniture. Baby furniture. Cheap furniture. American furniture warehouse. Lane furniture….