Book

Hifni-Alifahmi-Book

DIMENSI KOTA SPIRITUAL

Saat ESQ merayakan ulang tahun ke-6 pada bulan Juni 2007, kota Jakarta menapaki usia ke-480. Lalu, adakah kaitan keduanya? Keterpautannya terletak pada upaya-upaya ESQ dalam memberikan nuansa spiritual pada ibukota negeri ini. Simak saja jumlah alumni ESQ yang telah melampaui 300 ribu, lebih dari separuhnya berasal dari seputar Jakarta. Mereka tersebar di pemerintahan, BUMN, swasta atau wirausahawan, hingga pelajar dan mahasiswa.

Upaya mewarnai Jakarta agar memiliki citra sebagai kota spiritual bukanlah pekerjaan mudah. Saat ini mungkin atribut negatif yang melekat kuat pada Jakarta antara lain sebagai kota dengan kemacetan lalulintas, rawan kriminalitas, sarang korupsi, masalah sampah dan pengangguran. Padahal cukup banyak sisi positif dari kota yang dihuni multi-etnis ini.

Tulisan ini tidak akan mengulas tentang citra Jakarta, tapi berupaya memaparkan beberapa dimensi yang membangun citra dan membentuk reputasi kota agar berwajah spiritual. Wajah spiritual tercipta karena faktor sejarah, pengalaman para penghuni, ragam sektor usaha atau produk yang dihasilkan, serta kawasan dan ketersediaan fasilitas atau atribut kota yang bernuansa transendental.

SPIRITUALITAS KAWASAN/KOTA

Beberapa kota yang menjadi pusat penyiaran agama Islam oleh Walisongo cukup kuat nuansa spiritualnya. Syech Maulana Malik Ibrahim sebagai sesepuh para wali dan Sunan Giri berperan besar menjadikan Gresik sebagai kota wali/santri dengan jumlah pesantren yang cukup marak. Kini Gresik juga dikenal sebagai kota industri, antara lain produsen semen.

Begitu juga kota Kudus, tempat berkiprahnya Sunan Kudus dan Sunan Muria yang  berdakwah di lereng gunung Muria, belasan kilometer dari Kudus. Kini Kudus menghasilkan jenis kaligrafi yang memiliki kekhasan tersendiri. Selain sarat dengan nuansa religius, Kudus akrab juga dengan sebutan kota industri karena pabrik rokok yang menyerap ribuan pekerja di sana.

Dua daerah lain yang dikenal religius seperti Cirebon dan Banten yang dijelajahi Sunan Gunung Jati memiliki situs peninggalan yang memperlihatkan ketaatan beragama penduduknya. Bahkan Banten pernah mengalami masa kejayaan sebagai bandar perdagangan internasional, sebuah kawasan “metropolis-religius”. Sebagai simbol spiritual, kedua daerah ini ramai dikunjungi para peziarah yang sekaligus berwisata.

Lintasan kawasan spiritual sebagai bukti jejak Walisongo yang menebarkan semangat religius karena cintanya terhadap Indonesia (kombinasi nasionalisme dan spititualisme) itu membentang ratusan kilometer di sepanjang pantai utara Jawa (Pantura). Spiritualitas kawasan ini perlu terus dipelihara agar api spiritual tak pernah padam. Ini antara lain yang menjadi tugas alumni ESQ dan kaum spiritualis.

Beberapa daerah di luar Jawa juga memiliki julukan terkait muatan spiritual seperti Mataram yang dikenal sebagai kota seribu mesjid karena kerapatan jumlah mesjid dan peran penting tokoh agama/spitirual (tuan guru) di wilayah itu. Sementara spiritualitas Banjarmasin dikenal karena semarak aktivitas pesantren, spirit dan ketaatan beragama warganya.

Lain lagi dengan Bukittinggi yang dipilih sebagai tempat Rakernas II dan Temu Alumni ESQ pada 26-28 Januari 2007 lalu karena pancaran nilai spiritual atau religiositas masyarakatnya. Bila diruntut dari para pendahulu yang lahir di Bukittinggi dan berjuang di pentas nasional, tercatat nama-nama besar seperti Imam Bonjol, H. Agus Salim, Bung Hatta, Hamka, dan M. Natsir. Daerah ini juga memiliki sejumlah kawasan wisata bernuansa religius.

MEMASARKAN LIMA DIMENSI

Jika kita mencermati lebih seksama sejumlah kota yang memancarkan nuansa spiritual, paling tidak ada lima dimensi atau pilar yang membangun citra dan membentuk reputasi kota yang berwajah spiritual yaitu: figur personal, produk/jasa, perusahaan/institusi, industri, dan kawasan.

Pertama, figur personal atau tokoh. Sebagaimana semangat tokoh-tokoh nasional yang lahir di Bukittinggi, jiwa nasionalisme dan spiritualisme juga menyatu di Surabaya beberapa dasawarsa lalu sehingga mendapat sebutan kota pahlawan, karena peristiwa petempuran 10 November 1945. Nebula edisi 05/April 2007 halaman 39 mencatat, ruh di belakang layar pembakar semangat arek-arek Surabaya itu ternyata Resolusi Jihad yang dikeluarkan KH Khasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Namun, kini julukan kota pahlawan itu meredup, bahkan slogan kampanye pariwisata Sparkling Surabaya tahun ini seakan terputus dari semangat patriotisme itu.

ESQ kini memainkan peran penting dalam memunculkan figur atau tokoh-tokoh yang berkarakter mulia dengan sandaran nilai-nilai spiritual. Dari kaum spiritualis di kalangan profesional dan eksekutif inilah diharapkan lahir beragam produk/jasa dan perusahaan spiritual.

Kedua, pengembangan produk/jasa yang berdimensi spiritual. Mempromosikan fitur dan manfaat produk sudahlah biasa dalam pemasaran. Namun menambahkan dimensi sosial berupa menyisihkan sekian rupiah dari keuntungan atau penjualan produk untuk mengatasi masalah sosial merupakan langkah simpatik yang menyentuh nurani konsumen (baca tentang Pemasaran Berdimensi Sosial pada Nebula N0. 03/Februari 2007).

Ketiga, pilar korporasi. Kepedulian sejumlah perusahaan dan institusi terhadap masalah-masalah sosial seperti peningkatan mutu pendidikan dan sumberdaya manusia, kewirausahaan, dan kesehatan adalah sebagian contoh spiritualitas perusahaan. Contoh menarik bisa kita cermati seperti Kuis Tirtayatra Telkomsel yang menawarkan hadiah spiritual untuk perjalanan suci umat Hindu ke Nepal, India, Thailand dan Malaysia. Jadi, sisi spiritual dapat dijadikan sarana untuk apresiasi kepada pelanggan.

Keempat, industri berbasis spiritual. Karya seni ukiran kayu Jepara adalah contoh industri yang berkembang hasil kombinasi etnik dan religius. Keindahan sekat kayu pembatas ruangan bermotifkan kaligrafi atau ukiran pada akar kayu bertuliskan Syahadat adalah contoh perkawinan unsur etnik dan spiritual yang memunculkan keindahan, sekaligus kekaguman pada Ilahi, bukan pada kepiawaian pemahat.

Terakhir, mengembangkan kawasan atau tujuan wisata (destination) spiritual dengan nuansa serta segala fasilitas dan atribut fisiknya. Kini sejumlah kawasan hunian menawarkan suasana dan fasilitas yang menonjolkan spirtualitas. Kebutuhan masyarakat akan paket wisata rohani mendorong biro perjalanan mengemas produk atau jasa pariwisata atau mengundang investasi yang bernuansa spiritual

Satu hal yang perlu menjadi perhatian, motif utama dan aktivitas pemasaran untuk menghadirkan kota bernuansa spiritual idealnya bukanlah mencari laba, tetapi sebagai bentuk pengabdian kita agar setiap pengunjung dan warga kota terdorong menjadi lebih religius. Bila dari upaya tersebut ternyata menghasilkan keuntungan material, itulah buah dari kota spiritual. Inilah yang menjadi pancaran berkah kota Mekkah dan Madinah.

PETIKAN NURANI PEMASARAN

  • ESQ dan Jakarta ternyata memiliki keterpautan saat kita berupaya memberikan nuansa spiritual pada ibukota negeri ini.
  • Citra dan reputasi kota spiritual terbentuk karena faktor sejarah, pengalaman warga yang menghuni, hingga fasilitas dan atribut yang transendental.
  • Kita bisa mengembangkan dan memasarkan lima dimensi kota bernuansa spiritual yaitu: figur personal, produk/jasa berdimensi sosial, pilar perusahaan/institusi, industri berbasis spiritual, dan pengembangan kawasan atau tujuan wisata.
Post DIPOSTING OLEH Fahmi | March 13, 2009

6 Responses to “DIMENSI KOTA SPIRITUAL”

  1. A.Buchory Muslim Says:

    Assalamu’alaikum, Satu contoh kiprah alumni ESQ adalah Kapolda Jatim Anton Bahrul Alam, beliau dengan jabatan yang diamanahkan padanya mampu membuat sebuah gebrakan dahsyatnya, ” Jilbabisasi Polwan ” begitu juga dengan gerakan Sholat Jama’ah di mana saja para anggotanya bertugas dan gerakan menghafal dan mengamalkan Al asmaaul Husna. ( sekalian usul untuk menggunakan istilah yang benar ” Al Asmaa ul Husnaa “/ Al asma ul Husna bukan asmaul Husna karena dari dua kata itu berbeda ma’na. karena, kalau AL ASMA UL HUSNA = NAMA2 ALLAH YANG BAIK SEDANGKAN ASMAUL HUSNA = NAMA2NYA KEBAIKAN…) SEMOGA ESQ DENGAN ALUMNINYA MAMPU MEBAWA SINERGI BARU DALAM MEMBUMUKAN NILAI2 TAUHID DAN MENTERJEMAHKAN FITHRAH ASASI DALAM KEHIDUPAN DI BERBAGAI DIMENSI DAN LAHAN KEHIDUPAN MASING2. SALAM 165 WASSALAM

  2. Assalamu’alaikum, sudah jenuh rasanya manusia2 indonesia dengan keterpurukan, morat maritnya birokrasi, saatnya bangkit dan saatnya menjunjung tinggi 7 pilar budi utama, mudah2 kelompok2 kebaikan berjamaah mengalahkan kemadlorotan jamaah, bangkit Bapak Ari Ginanjar dengan ESQ 165, AA Gym dengan darul tauhidnya, Arifin Ilham dengan Dzikirnya, Ustad Mansyur dengan wisata Hatinya, Ahcmad Faiz Zainudin dengan SEFTnya, Achmad Jamil dengan Sukses Mulianya, Mario Teguh dengan Super Mario, Andree Wongso dengan Sukses Is my right, Jhonson Sinamo dengan ETOSnya…dll. Insya Allah 2020 terjadi INDONESIA EMAS….amin, wassalam

  3. Elan Dewotono Says:

    Askum. Kota spritual? Negara spiritual? Apakah Denpasar bukan seperti itu. Apakah Bali bukan seperti itu? Tentu saja dalam arti spiritual ‘khas Bali’ Bagaimana dengan Bhutan, India, Bangkok etc etc.
    Kaum ‘kafir’ unggul dalam berbagai bidang, sementara umat Islam maaf terpuruk. Walisongo berjasa besar, tapi kenyataan selanjutnya umat terpecah belah, saling cacimaki. Selain kita mensyukuri munculnya para kelompok2 yang bisa diharapkan meningkatkan atau menemukan kembali ‘Api Islam’, pinjam istilah ORLA/BK; saatnya umat memikirkan, meneliti,menemukan jika bisa, siapa / apa / bagaimana umat menjadi seperti sekarang ? Maaf, siapa / apa / bagaimana umat menjadi amat tertinggal dari orang ‘kafir’? Pasti, menurut saya, ada hal yang sangat mendasar yang perlu kita gali.
    Was.

  4. sobur Mulyantohari Says:

    Assalamualaikum Wr.Wb

    Sebelumnya saya mohon maaf, karena saya bukan berkomentar tentang tulisan pak fahmi yang berjudul dimensi kota spiritual. Saya cuma mau tanya gimana caranya saya bisa memiliki buku2 yang bapak tulis? bisa gak saya download langsung dari internet. dan alamt webnya apa ya? syukron katsir pa.
    Salam buat keluarga (wahyu, fari, dan bu adis)

    Wassalamualaikum WR.Wb

    Sobur ( Mantan Asst. )

  5. Wassw.,
    Sobur… untuk buku Spiritual Mkt Comm, kalau minat nanti saya kasih aja. Tapi sekarang saya lagi kosong, mau ambil dulu ke penerbit.
    Buku yang satu lagi Mkt Comm Orchestra bisa diakses ke http://www.spiritmarcom.com.
    Fahmi

  6. kalau mau bisnis ya bisnis aja jangan bawa2 islam pake pelatian2 model - model apa ujung-ujungnya ya cari DUIT ingat mati boooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooos

Leave a Reply