Book

Hifni-Alifahmi-Book

MUHAMMAD PEMASAR SPIRITUAL

Terlalu banyak sisi cemerlang dari lintasan kehidupan dan gaya kepemimpinan nabi Muhammad Saw yang patut diteladani setiap insan hingga akhir jaman. Sering kali kata-kata tidak mampu memaparkan keagungan prestasi dan hasil yang dicapai nabi. Untuk mengenang keagungan kepemimpinan nabi dalam momentum Maulid ini, menarik bila kita menilik salah satu sisi kepiawaian rasulullah yakni dalam berbisnis yang dilakoni sejak usia belia selama puluhan tahun.

Seperti kita ketahui, nabi menikmati hidup bersama ibunda Siti Aminah hanya hingga usia enam tahun, lalu diasuh kakek Abdul Muthalib sang pemuka kaum Quraisy sampai berusia delapan tahun, karena Abdullah ayahanda nabi telah wafat ketika nabi masih dalam kandungan. Setelah itu ikut bersama pamanda Abu Thalib yang memiliki banyak tanggungan anggota keluarga. Tak heran bila nabi saat usia belum sepuluh tahun sudah harus ikut memikul beban mencari upahan sebagai penggembala kambing.

SKENARIO ILAHIAH

Beberapa nabi pada masa kecilnya menggembala kambing. Banyak orang menganggap remeh pekerjaan ini, padahal padat dengan pelajaran moral, spiritual dan fisik sekaligus. Siapa yang mengira bahwa ini merupakan rekayasa Allah untuk menyiapkan manusia dengan karakter mulia dan tangguh! Pahamilah Skenario Ilahiah di balik pekerjaan menggembala puluhan kambing, apalagi ratusan ekor di gurun pasir tentu bukan pekerjaan ringan. Hal ini malah menumbuhkan sikap terbuka dan terbiasa bebas, teliti, empati, jujur, berani, mandiri, tanggungjawab, determinasi, kemauan mengarahkan, lugas, bernyali, sabar, dan akrab dengan alam sejak usia dini.

Nabi dibesarkan dan ditempa di “sekolah” alam bebas. Dengan begitu karakter yang terbentuk justeru sangat sesuai untuk bekal jadi wirausahawan dan pemasar sukses. Nabi mulai mengenal percaturan bisnis sejak usia 12 tahun ketika bersama rombongan pamannya melakukan ekspedisi bisnis ke Syiria. Lawatan itu memang tidak sampai tuntas karena disarankan kembali ke Mekah oleh pendeta Bahira yang melihat tanda kenabian pada diri Muhammad kecil, namun pasti memberi pengalaman berharga bagi calon nabi.

Pada masa remaja hingga menikah di usia 25 tahun dan diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun, ternyata nabi telah melakukan lawatan bisnis ke beberapa negara tetangga yang kini bernama Syiria, Yaman, Bahrain, Irak, dan Yordania. Pengalaman berbisnis itu juga dilakoni nabi dari perdagangan kecil hingga grosir di seputar kota Mekah.

Skenario Ilahiah inilah yang menjadikan nabi sebagai pemasar spiritual. Bila dicermati, dari usia belia hingga 37 tahun (tiga tahun terakhir hingga usia 40 nabi berkontemplasi di gua Hira), ternyata nabi memasarkan barang berwujud (tangible) seperti pakaian hingga perlengkapan rumah tangga. Namun sejak usia 40, nabi lebih fokus memasarkan ide atau jasa yang tak berwujud (intangible) untuk mengemban misi kerasulan yang berintikan seruan agar manusia meyakini Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah.

Ada yang tidak berubah dalam kedua periode pemasaran cara nabi itu yakni nuansa spiritual berbasis kejujuran sebagai landasan utama. Itulah spirit nabi dalam bekerja sebagai profesional memasarkan barang dagangan dengan mendapat upah maupun berbisnis melalui skema bagi-hasil (profit-sharing) dengan pemilik modal seperti Khadijah.

PANCARAN REPUTASI PERSONAL

Nabi dengan reputasi pribadi (personal branding/reputation) terpercaya yang terbangun sejak belia, tentu saja mudah memperoleh atau meminjam barang dagangan untuk dijual kembali. Orang Yahudi saja untuk urusan menitip barang lebih percaya kepada nabi.

Sukses nabi sebagai wirausahawan dan pemasar bukan hanya tercermin dari laba besar yang diraih, tapi juga relasi dagang yang luas dan pemahaman terhadap wilayah yang disinggahi nabi. Ini dibuktikan setelah hijrah ke Madinah di usia melewati 53 tahun, nabi kerap bertemu mitra bisnis lamanya dan mampu menjelaskan secara terinci beberapa nama daerah atau kota dagang yang pernah dikunjungi.

Reputasi pribadi terpercaya juga melekat pada diri Abdurrahman bin Auf, saudagar kaya-raya sewaktu di Mekah. Ketika hijrah ke Madinah memulai lagi bisnis dari nol. Ia menampik tawaran atau fasilitas dari kaum anshar (penduduk setempat) dan hanya meminta untuk ditunjukkan pasar. Kepiawaian dalam berbisnis membuatnya kembali mampu memiliki kekayaan berlimpah secara etis.

Dalam memasarkan pesan dakwah, nabi menjalani melalui lima tahap: menyeru secara eksklusif selama tiga tahun untuk keluarga terdekat; lalu terbatas terhadap keturunan bani Muthalib melalui dua kali pertemuan keluarga besar; gaya komunikasi terbuka dengan konsekuensi mengalami intimidasi dan teror; penyiapan komunitas melalui dua fase hijrah yaitu ke Habsyah (Ethiopia) dan Madinah untuk mengurangi penindasan fisik dan psikologis, serta terakhir menaklukkan penguasa kafir Mekah secara damai.

Skenario Ilahiah kembali dialami nabi ketika salah langkah dalam memilih prioritas segmen dakwah para pemuka Quraisy. Allah menegur nabi sangat keras dan diabadikan dalam surat Abasa (bermuka masam) karena bersifat diskriminatif dengan mengutamakan kelompok elit dan berpaling mengabaikan rakyat biasa yang tunanetra, lihat Qs. 80:1-16.

Teladan yang bisa kita petik dari sukses nabi adalah: awali dengan membangun reputasi personal yang kokoh, menyiapkan perbekalan dana yang cukup, lalu secara bertahap menebar ide berupa nilai-nilai inti (core values). Semua dijalani dengan ikhlas dan penuh cinta. Ini tercermin hingga detik-detik terakhir hayat nabi yang tetap menunjukkan kecintaan mendalam terhadap masa depan pengikutnya dengan memanggil ummatii… ummatii… ummati…

PETIKAN NURANI PEMASARAN

  • Sisi cemerlang dan gaya kepemimpinan nabi Muhammad yang patut diteladani adalah kepiawaian beliau sebagai wirausahawan dan pemasar spiritual.
  • Sukses nabi sebagai pemasar spiritual berawal dari keagungan karakter dan pancaran reputasi personal sebagai insan dan mitra terpercaya dalam berbisnis.
  • Nabi adalah teladan pemasar spiritual yang lengkap karena berbisnis produk berwujud (tangible) dari masa belia hingga usia 37 tahun dan memasarkan jasa atau ide (intangible) sejak usia 40 hingga wafat di usia 63 tahun.
  • Teladan yang bisa kita petik dari sukses nabi adalah: awali dengan membangun reputasi personal yang kokoh, menyiapkan perbekalan dana yang cukup, lalu secara bertahap menebar ide berupa nilai-nilai inti (core values).

Post DIPOSTING OLEH Fahmi | January 7, 2009

6 Responses to “MUHAMMAD PEMASAR SPIRITUAL”

  1. A. Buchory Muslim Says:

    Salam kenal Pak HIfni, sangat ibnspiratif buat bahan Dakwah. jazaakumul;laah

  2. Assalamualaikum.wr.wb..
    Thanks artikelnya pak. minta izin untuk diposting ke website forsei ya..

  3. Alhamdulillah Pak Buchori, saya seneng kalau bermanfaat untuk banyak orang.
    Kalau mau diposting ke we forsei silahkan saja, asal menyebut sumber/penulis dan judul buku.

  4. Andri Yan P Says:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb Pak Hifni
    Saya sangat tertarik dengan tulisan tentang Spiritual Marketing.
    Bisa saya minta sumber rujukan tulisan Bapak dan
    dimana mendapatkannya sebagai bahan penulisan riset disertasi saya
    Trim’s
    Wassalam

  5. Wassww.,
    Pak Andri Yan, terima kasih atas responnya.
    Buku saya judulnya Spiritual Marketing Communications: Meramu Kampanye Pemasaran Berbasis Naluri, Nalar, dan Nurani. Penerbit Arga Publishing/ESQ, Mei 2008. Buku ini biasanya dijual saat training ESQ, tapi di beberapa toko buku Gramedia dan Gunung Agung juga ada.
    Disertasinya tentang apa ya Pak? Kebetulan juga saya lagi ambil S3 Komunikasi di UI, mungkin kita bisa sharing kalau ada tema-tema yang pas dengan bidang kita masing-masing.

  6. Andi Gunawan Says:

    Assalamualikum
    pak hifni, sangat inspiratif artikelnya. memang ada banyak para pakar keilmuan di bidang keIslaman banyak mengupas sisi kehidupan Nabi hanya dari sisi dakwahnya saja, atau ahanya dari sisi bangaimana Nabi memimpin perang, atau bagaimana Nabi membangun keluarga. jarang yang mau mengupas sisi kehidupan Nabi dari sisi Bisnisnya sehingga banyak ummat Islam yang terbelakang dari segi ekonomi.

    salam sukses
    wassalam

Leave a Reply