Book

Hifni-Alifahmi-Book

Stamina Pemasar Spiritual

Pemasaran spiritual makin berkembang bila bermunculan para pelaku atau pemasar spiritual (spiritual marketer). Tidak banyak insan pemasaran atau wirausahawan yang berbasis spiritual. Ini terjadi karena opini publik yang kini berkembang adalah bisnis tidak perlu terlalu dikaitkan dengan nilai-nilai spiritual atau etika, karena dunianya berbeda.

Di antara kelangkaan pemasar spiritual itu dan agar tulisan ini lebih kongkret, maka menampilkan sosok pemasar spiritual, seorang pengusaha yang mulai merintis usaha sendiri ketika usia belum 25 tahun. Kini ia bergelut di bisnis kargo dan logistik yang keras persaingannya, bermain bukan hanya di pasar domestik, melainkan pentas global. Nama perusahaannya PT Internusa Hasta Buana (Internusa Cargo) yang melewati usia ke-15. Refleksi perjalanan perusahaan yang tergabung dalam 45 pebisnis kargo FPS (Famous Pacific Shipping) Group ini dipaparkan dalam buku Menjadi Global Tanpa Modal (2006).

Nakhoda di belakang layar Internusa adalah figur spiritual muda Iskandar Zulkarnain, SE, M.Si. Sosok pribadi yang sejak usia belia terobsesi untuk keliling dunia. Keinginannya terkabul setelah kuliah di Akademi Ilmu Pelayaran (AIP) dan berlayar ke mancanegara. Setelah beberapa tahun bekerja menangani pemasaran perusahaan pelayaran, lalu ia memilih membuka usaha sendiri.

Berikut ini adalah paparan dari isi buku Internusa itu dan berdasarkan perbincangan dengan pengusaha yang mengombinasikan bisnis dengan spiritual, atau memadukan aspek komersial dan sosial melalui empati dan kepedulian terhadap kaum papa.

Bekal Stamina Spiritual

Iskandar “Internusa” Zulkarnain meyakini bahwa ruh dari pemasar spiritual diawali dengan niat bisnis untuk ibadah kepada Allah. Selain itu, orientasi kepada konsumen, bukan hanya uang atau lantai bursa.  Ciri-ciri aktor pemasaran spiritual bertumpu pada nilai-nilai spiritual yang universal seperti kejujuran, rendah hati, empati terhadap sesama, dan bersikap adil. Singkat kata, pemasar spiritual memiliki karakter mulia.

Bila mengacu pada tulisan saya “Model Pemasaran Spiritual” pada Nebula edisi 20 dan 21, maka Rasa dan Rasio hanyalah sebagai sarana, sementara Ruh menjadi kemudi. Dengan kata lain Niat yang ikhlas menjadi titik sentral karena bertumpu pada Nurani; sementara Naluri dan Nalar hanya sebagai pijakan.

Dengan motif memulai usaha untuk pengabdian kepada Allah dan berbekal keyakinan bahwa bisnis yang jujur akan mujur, sisi inilah yang terus memberi inspirasi dan energi spiritual. Bila direnungkan lebih mendalam, kunci suksesnya adalah karena bekal stamina spiritual yang luar biasa. Ia juga mengakui di tengah persaingan yang ganas, bila tidak berbekal spiritual yang kuat, pengusaha bisa “gila” menghadapi tekanan pasar.

Stamina spiritual semacam itu yang dimiliki nabi Muhammad Saw yang tetap tegar walaupun ditawari tahta, harta, dan wanita sebagai imbalan untuk meninggalkan gelanggang dakwah; juga begitu sabar dan ikhlas walaupun dilempari batu hingga berdarah-darah ketika ingin meminta suaka perlindungan ke Thaif. Demikian juga nabi Musa As yang diberi mukjijat mampu membelah lautan dan nabi Yunus As bisa keluar dari perut ikan karena stamina spiritual dan kepasrahannya kepada Allah Swt semata.

Itulah antara lain relevansinya dengan bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadahan; tiga bulan yang penuh makna penggemblengan stamina spiritual. Nabi Muhammad Saw mengajarkan kita berdoa: “Wahai Allah, berkatilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta perkenankanlah kami menjumpai Ramadhan.” Suasana batin dipersiapkan sejak bulan Rajab dan Sya’ban, sehingga begitu menjalani Ramadhan mencapai puncak spiritualitas.

Trustworthy is Forever

Sisi menarik lain dari Internusa Cargo adalah budaya perusahaan yang berlandaskan sembilan nilai: jujur (honest), tanggungjawab (responsible), disiplin (discipline), cepat dan akurat (fast and accurate), kekompakan tim (teamwork), keadilan (fairness), memiliki rencana jauh ke depan (visionary), rasa empati (empathy), dan memancarkan rasa kasih sayang (grateful). Semua nilai itu diperas menjadi Trustworthy is Forever. Kepercayaan adalah segalanya dan selamanya.

Budaya perusahaan itu dirumuskan dari praktik yang dilakoni. Lalu, moto perusahaan adalah “Bekerja sebagai ibadah.” Tujuan utama adalah untuk mencapai ridha Allah Swt. Karena benang spiritual yang kuat itulah, Iskandar “Internusa” tidak ragu mempekerjakan 15 penyandang cacat tubuh sebagai karyawan. Inilah cara Internusa memberdayakan dan memuliakan orang kecil.

Prof. Din Syamsuddin Ketua Umum PP Muhammadiyah menilai Iskandar merupakan sosok kader Muhammadiyah yang peduli pengentasan kemiskinan dan dunia zakat. Ia melaksanakan yang dinasihatkan pendiri Muhammadiyah agar tidak mencari penghidupan dari Muhammadiyah, tapi justeru menghidupi Muhammadiyah. Bahkan Sugiharto Meneg BUMN menilai Iskandar sebagai pengusaha yang mengedepankan CSR/Corporate Social Responsibility dan tak kenal lelah dalam upaya sosialisasi dan optimalisasi zakat.

Kita mungkin tidak mengira bahwa sosok pebisnis spiritual yang juga dekat dengan kalangan NU ini pernah mengikuti kontes Abang None Jakarta, menjadi mayoret pada pembukaan PON X tahun 1981, model Hugo Bos 1990, penggemar motor gede, suka arung jeram dan berkuda. Tapi, pada kesempatan lain ia begitu dekat dengan anak-anak yatim dan orang-orang miskin, tanpa mengabaikan kedekatan dengan keluarga. Bahkan karyawan Internusa dianggap sebagai keluarga sendiri.

Walaupun sudah memiliki kekayaan cukup dan banyak anak perusahaan, Iskandar masih tidak canggung untuk nongkrong di warung, makan sop kaki atau gado-gado kesukaannya di pinggiran jalan. Ia bahkan mengkritik gaya hidup pengusaha yang berubah setelah mencapai puncak, karena dianggapnya besar pasak daripada tiang alias biaya tinggi, kecuali sebatas kepatutan. Jadi, gaya hidup sederhana berbasis Syariah bisa beriringan dengan modernitas dewasa ini.

Di mata mitra bisnisnya, Iskandar dikenal sebagai: honest and very helpful (Quincy Tan, FPS Singapore), real loyal Muslim (Benny Ling, FPS Hongkong), always thinking outside square (George Ravlich, FPS West Australia), charming and friendly (Gihan Nanayakkara, FPS Sri Lanka), dan clever man (Pedro M. Lopez, Spain).

Sungguh, baru sekelumit apa yang diceritakan dalam tulisan ini sama sekali bukan untuk menyanjung sosok Iskandar “Internusa”. Namun ada yang penting untuk dipetik menjadi pelajaran, bahwa bisnis berbasis spiritual terbukti sukses dan kompetitif di mancanegara. Indonesia butuh ratusan dan ribuan Iskandar muda untuk menggerakkan roda bisnis atau kemakmuran bangsa ini menjadi lebih spiritual dan bermartabat.

Petikan Nurani Pemasar Spiritual

· Pemasar spiritual berbekal utama niat yang tulus ikhlas. Semua aktivitas menjadi ibadah sebagai wujud persembahan karya terbaik kepada Allah.

· Ciri khas pemasar spiritual memiliki sejumlah karakter mulia.

· Perusahaan spiritual berbasis nilai-nilai budaya perusahaan yang kokoh.

· Gaya hidup Syariah tidak berbenturan dengan modernitas.

Bisnis berbasis spiritual terbukti sukses kompetitif di mancanegara.

Post DIPOSTING OLEH Fahmi | November 18, 2008

2 Responses to “Stamina Pemasar Spiritual”

  1. Pertama, saya ucapkan selamat dan salam sukses kepada Bapak Iskandar Zulkarnai yang telah sukses dalam menapaki bisnis Menjadi Global Tanpa Modal. Dengan salah satu motto Gaya hidup Syariah tidak berbenturan dengan modernitas. Saya menulis disertasi tentang Pemikiran A.Mukti Ali tentang Modernisasi Kebijakan Keagamaan di Indonesia.Nilai nilai agama yang bersifat modern antara lain menghargai waktu dengan disiplin dan produktif untuk kemaslahatan umat dan bangsa. Rumah Lakmi

    Jl. Ciputat Raya No. 6, Pondok Pinang,
    Jakarta Selatan (12310)
    Telp./Fax. (021) 75906215 email: lakmihalal@yahoo.co.id

  2. dgn spiritual bisa membawa pengusaha menjadi kaya harta, kaya hati dan kaya berbagi :)
    thanks tulisannnya yg menginspirasi mas :)

Leave a Reply